بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم Rochmany's Blog: Bisa Selesaikan Tafsir Al-Azhar, Hamka Bersyukur Dibui Soekarno
Go Green

Clock Link

Monday, February 17, 2014

Bisa Selesaikan Tafsir Al-Azhar, Hamka Bersyukur Dibui Soekarno


MERDEKA.COM. Sebagai seorang ulama terkemuka, Buya Hamka juga dikenal sebagai seorang penulis produktif. Ribuan karya tulis telah dihasilkannya dan beredar sejak orde lama berkuasa. Tidak hanya menulis tentang ilmu-ilmu Islam, Buya Hamka juga banyak menulis bidang kajian politik, sejarah, budaya, dan sastra.

Di antara ribuan karya tulis pria yang bernama lengkap Abdul Malik Karim Amrullah itu, mungkin yang paling fenomenal adalah Tafsir Alquran 30 Juz yang diberi nama Tafsir Al-Azhar. Tafsir ini tidak hanya menjadi acuan bagi umat Islam di Indonesia, tapi juga umat Islam di negara jiran seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, hingga ke Thailand Selatan.

Tafsir Al-Azhar sendiri diselesaikan Buya Hamka saat dia mendekam selama dua tahun empat bulan di penjara pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Saat itu, atas ususlan PKI, Hamka dituduh melanggar Undang-Undang Anti Subversif Perpres Nomor 11 yaitu merencanakan melawan presiden.

Dalam buku 'Ayah' yang ditulis oleh putranya, Irfan Hamka, ulama yang dikenal selalu berusaha menghindari konflik sekecil apa pun dengan siapa pun ini tidak pernah menaruh dendam dengan sahabatnya tersebut. Bahkan pria yang memperoleh gelar doktor honoris causa dari Universitas Al Azhar Kairo Mesir, itu mengaku berterima kasih kepada Soekarno karena sempat memenjarakannya sejak 1964.

"Dendam itu termasuk dosa. Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa semua itu merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan Kitab Tafsir Alquran 30 Juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan itu," ujar Hamka.

Tidak hanya dipenjara dengan tuduhan yang tidak pernah bisa dibuktikan pemerintah orde lama, PKI yang pada masa pemerintahan Presiden Soekarno dekat dengan sang proklamator, juga mengancam penerbit untuk tidak menerbitkan buku-buku Hamka. Praktis sumber penghasilan keluarga tidak ada lagi.

Beruntung tekanan PKI tidak terjadi di Sumatera Barat. Di tanah kelahirannya, peredaran buku-buku karya Hamka dapat dibeli dengan mudah tanpa takut ada sweeping dari simpatisan partai komunis tersebut.

No comments:

Post a Comment