بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم Rochmany's Blog
Go Green

Clock Link

Thursday, March 29, 2012

Ternyata Batosai Itu Benar-Benar Ada

sumber: http://www.the-oro.com/kk_lay.php?x=info/chara


Samurai X yang memiliki judul asli Rurouni Kenshin ialah manga & anime karya Nobuhiro Watsuki yang berlatar belakang awal dari era Meiji di Jepang.Mungkin anime ini bisa tergolong anime jadul (sekitar tahun 1998 ditayangkan di Indonesia),tapi klo dari segi cerita,top dah pokoknya gak ada matinya menurut ane. Bagi agan-agan pecinta Samurai X tahu gak kalau Samurai X diambil dari kisah nyata yang ada di Jepang. Bahkan hampir semua karakter yang ada di cerita Samurai X itu memang diambil dari tokoh sejarah Jepang jaman dulu. Di sini bakalan mengulas tentang tokoh-tokoh dan cerita-cerita yang ada di anime Samurai X



Kawakami Genzai

Sosok yang dijadikan model dari karakter Kenshin. Kawakami Genzai merupakan satu dari empat hitokiri (pembunuh berdarah dingin) pada masa Bakumatsu (revolusi Jepang), secara penampilan Kawakami Genzai merupakan sosok yang pendiam, memiliki ukuran tubuh yang kecil dan nggak tinggi, serta memiliki rambut yang panjang. Orang-orang yang baru pertama melihatnya sering salah mengira bahwa dirinya adalah seorang wanita (mungkin inilah yang menjadi point kemiripannya dengan Kenshin). Pada era revolusi Jepang Kawakami merupakan sosok pendukung gerakan Jyoi. Dia menjadi tenar setelah berhasil membunuh seorang idealis dan pemikir hebat Shakuma Shouzan. Sakuma memiliki pemikiran bahwa untuk maju Jepang harus membuka diri dengan pengaruh asing, khususnya barat. Hal ini lah yang menjadikan dirinya sebagai sasaran empuk bagi gerakan-gerakan radikal yang menginginkan Jepang tetap murni dan bersih dari kontaminasi pengaruh asing.
Setelah membunuh shakuma shouzan, kawakami genzai dimasukan kedalam penjara dan akhirnya dibebaskan setelah masa restorasi meiji. Namun ternyata era baru dari pemerintahan meiji setuju dengan konsep dan pandangan dari shakuma, bahwa untuk maju jepang harus membuka diri dari pengaruh asing dan mempelajari teknologi-teknologi asing, namun tetap berjiwa jepang. hal inilah yang membuat kawagami genzai menentang habis-habisan pemerintahan meiji, dia tidak mau melihat hasil perjuangan dari teman2nya dari kelompok jyoi yang telah meninggal jadi sia-sia. Kawagumi pun menjadi sosok penganggu yang menjadi momok bagi pemerintahan meiji, dan pada tahun ke 4 meiji atau tepatnya 1871 masehi dia ditangkap dan dipenggal mati.





Hitten Mitsurugi Ryu

Jurus yang mematikan milik Kenshin ini juga ternyata diadopsi dari jurus milik Kawakami Genzai yang memiliki aliran Shiranui Ryu yang hebatnya aliran ini diciptakannya sendiri. Jurus pedangnya sangat unik: seperti Kenshin,kaki kanan diarahkan ke depan, lutut agak sedikit dilenturkan, sementara kaki kiri di tekuk dengan lutut menyentuh tanah/lantai. Sekali tebas dengan tangan kanan, maka habislah lawan



Sakabatou Shinuchi

Nobuhiko Watsuki pengarang Rurouni Kenshin mengatakan bahwa dalam sejarah Jepang pedang yang dipakai Kenshin ini memang benar-benar pernah ada dan dipakai salah seorang samurai, namun TS belum menemukan sumber referensi yang tepat untuk keberadaan pedang ini. Pada masa kini pedang Sakabatou banyak dibuat replikasinya, biasanya walaupun tajam tapi hanya berfungsi untuk pajangan saja karena tidak memenuhi standar dari sebuah katana...


Quote:
Hajime Saito (18 Februari 1844 – 28 September 1915)

Dalam cerita anime Rurouni Kenshin terdapat seorang tokoh yang bernama Hajime Saito yakni kapten regu 3 kelompok Shinsen, dan ternyata Hajime Saito merupakan tokoh yang benar-benar nyata dan memang pernah hidup pada zaman itu, semua yang diceritakan di serial anime dan manga Rurouni Kenshin tentang Hajime Saito hampir semuanya merupakan kisah nyata terkecuali kisahnya dengan Kenshin dan Sishio Makoto. Sebagai anggota dari shinsengumi saito dikenal sebagai seorang yang tertutup dan misterius. Dia bukanlah sesorang yang mudah diajak bicara, posisi aslinya di shinsengumi adalah sebagai fukucho jokin (wakil panglima). Tugas utamanya adalah sebagai pelatih kenjutsu dan kadang bertugas sebagai mata-mata. Hajime Saito memiliki jurus yang sangat mematikan, yaitu jurus satu sabetan tangan kiri dan ini membuatnya menjadi orang terkuat di Shinsengumi bersama Okita dan Nagakura. Saito banyak membunuh para anggota korup Shinsengumi seperti Itou Kashitarou, Takeda Kanryuusai dan lain-lain. Setelah restorasi Meiji, Saito bekerja sebagai polisi di Tokyo dan merubah namanya menjadi Fujita Goro. Doi juga pernah bekerja di universitas Ochanomizu sampai akhirnya dia meninggal karena kanker usus pada tahun 1915 dalam umur 72 tahun.



Okita Souji ( ? 1844 - 19 Juli 1868 )

Satu lagi karakter dalam serial anime Rurouni Kenshin yang tokohnya diambil dari kisah nyata yaitu Soujiro Seta. Karakter Soujiro Seta ini dibuat berdasarkan seorang samurai anggota Shinsengumi, sang kapten regu 1 kelompok Shinsen yang bernama Okita Souji. Okita Souji adalah anggota Shinsengumi yang paling populer, di usianya yang masih sangat muda dia menguasai berbagai macam teknik-teknik pedang handal, dan pada usia 15 tahun lebih dia sudah menjadi seorang samurai yang ulung. Pedang yang ia gunakan adalah Kikuichi Narimune (dalam anime Rurouni Kenshin pedang inilah yang digunakannya untuk bertarung melawan Kenshin pada pertarungan terakhir). Okita terkenal sebagai ahli pedang terbaik yg dimiliki oleh Shinsengumi. Sayang sekali, pada umurnya yang ke 20 dia terserang TBC akut. Penyakit Okita mulai diketahui saat peristiwa Ikeda-ya. Dalam peristiwa Ikeda-ya terlihat Okita yg rubuh meskipun ia tidak terkena serangan musuh. Lalu setelah perang Boshin ia masuk rumah sakit di Edo dan meninggal dalam usia 25 thn. 






Hijikata Toshizo (31 Mei 1835 - 20 Juni 1869)

Sosok yang dijadikan model dari karakter Aoshi Shinomori ini merupakan wakil komandan Shinsengumi. Hal ini berbeda dengan posisi Aoshi Shinomori sebagai pemimpin Oniwabanshu di manga atau anime-nya.Sepertinya watsuki (pengarang samurai X) telah memodifikasi tokoh ini secara ekstrem. Tapi memang benar bahwa sejarah Hijikata selalu mengenakan Kodachi (sepasang pedang kembar, semacam pisau panjang). Dan uniknya Hujikata ini juga salah satu petarung yang sangat disegani dalam sejarah jepang dengan menggunakan kenjutsunya yang khas yaitu Shinsengumi-kenjutsu" gaya bertarung dari Tennen Rishin-ryu. Hijikata meninggal dalam pertempuran Hakodate dan sampai sekarang belum tahu dimana dia dikubur tetapi nisan peringatannya bisa kita lihat di dekat Itabashi Station,Tokyo






Harada Sanosuke ( ? 1840 - 6 Juli 1868 )

Watsuki (Pengarang Samurai X) ternyata memang benar-benar fans berat dengan Shinsengumi. Karakter Sanosuke Sagara dia buat berdasarkan Kapten regu 10 Shinsengumi,yaitu Harada Sanosuke. Harada Sanosuke lahir dari keluarga Chugen yaitu kasta terendah dari keluarga samurai. Dia terlatih sekali dalam menggunakan tombak dengan Hozoin-Ryu Style..(Hampir mirip Sanosuke di anime/manganya yang menggunakan Zanbatto..pedang Sanosuke yang gede itu loh). Menurut sejarah, Harada Sanosuke sangat mirip dengan Sagara Sanosuke. Senang berkelahi, cepat marah dan sangat suka berduel. Senjata favoritnya adalah tombak. Sebelum ia bergabung dengan Kondou, Harada adalah pelayan dari beberapa orang bushis (samurai), dan status inilah yang menjadi titik lemahnya pada saat itu. Akan tetapi, ia benar-benar merawat para bushis yang menjadi majikannya.Dan Harada Sanosuke meninggal pada saat Perang Boshin.






Okada Izo ( 14 Februari 1832 - 3 Juni 1865 )

Okada Izo merupakan model untuk karakter Udo Jin-e ( musuh kenshin yang pake topi caping itu dan berdarah dingin itu loh....). Okada Izo merupakan salah satu dari 4 hitokiri yang terkenal dan paling ditakuti di era Bakumatsu. Mempunyai bakat alami dalam ilmu pedang, ia bisa menciptakan gaya asli teknik pedang sendiri. Kemudian dia masuk sekolah pedang aliran Onoha Ito Ryu dan diajarkan oleh Takechi Hanpeita, yang kemudian menjadi pemimpin Tosa Kinnoto, sebuah partai radikal antiforeigner.Di bawah kepemimpinan Takechi Hanpeita, Izo sangat dipengaruhi untuk memikirkan antiforeigner dan menjadi sangat aktif di Kyoto sebagai pembunuh. Tapi setelah kudeta di Byunku,para aktivis antiforeigner diusir dari Kyoto dan Izo tertangkap di Tosa.Pada tahun 1865 pada usia 32, dua tahun sebelum fajar Restorasi Meiji, ia dipenggal atas tuduhan pembunuhan serial.Meskipun kegiatan terkenal sebagai teroris, Okada Izo tetap menjadi salah satu prajurit paling populer di era tersebut. 





Serizawa Kamo ( ? - 30 Oktober 1863 )

Sosok yang dijadikan model dari karakter Shishio Makoto ini merupakan Komandan pertama dari Shinsengumi. Dikenal sebagai pribadi yang tidak menyenangkan. Ia dikenal karena kipas besi yang digunakannya dan sering mengunjungi rumah-rumah pelacuran, membunuh orang-orang tanpa alasan, mabuk-mabukan dan melakukan hal-hal yang tidak sopan, selama memegang kekuasaan sebagai Kapten Shinsengumi.
Ia mempelajari ilmu pedang (Kenjutsu) dari Togazaki Kumatarou, dengan aliran Shintou Munen, hingga status/level Menkyou Kaiden (ini adalah status/level tertinggi yang dapat diraih oleh seorang jago pedang, artinya adalah bahwa ia telah menguasai setiap aspek dari gaya ilmu pedang (termasuk ogi, tehnik tersembunyi dan ia dapat mengajarkannya kepada orang lain). Karena Serizawa lah maka lahir Serigala Mibu (Mibu-ro). Serizawa dan beberapa anggota korup lainnya akhirnya dibunuh oleh pasukan Shinsengumi.






Katanya akan dibuat Samurai X Live Action Movie (Pemerannya Manusia) dan bakalan keluar tahun 2012 nanti..ini infonya: 



Hari Film Nasional 30 Maret

sumber: 
http://petualangwaktu.multiply.com/journal/item/2/Sebelum_Lahirnya_Hari_Film_Nasional

Hari Film Nasional diperingati oleh insan perfilman Indonesia setiap tanggal 30 Maret. Tanggal ini ditetapkan sebagai hari lahirnya Film Nasional karena pada 30 Maret 1950 adalah hari pertama pengambilan gambar film “Darah & Do’a” atau “Long March of Siliwangi” yang disutradarai oleh Usmar Ismail. 

Darah & Do'a: 



Alasan disakralkannya film “Darah & Do’a” karena film ini dinilai sebagai film lokal pertama yang bercirikan indonesia.

Selain itu inilah film pertama yang benar-benar disutradarai oleh orang Indonesia asli dan juga dilahirkan dari perusahaan film milik orang Indonesia asli. Perusahaan ini bernama Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia) Usmar Ismail juga pendirinya.

Film Nasional telah disepakati lahir pada tanggal 30 Maret 1950, namun sebenarnya sejarah pembuatan film cerita di Indonesia yang dulunya bernama Hindia Belanda, sudah dimulai pada tahun 1926. Bahkan sampai tahun 1942 industri film lokal sudah cukup berkembang, meskipun masih kalah bersaing dengan film-film asing terutama dari Amerika. 

Pada masa itu para pemilik perusahaan-perusahan film lokal adalah orang-orang Cina & Belanda. Judul film cerita yang pertama kali dibuat di negeri ini adalah: “Loetoeng Kasaroeng” yang masih berupa film bisu. 

Loetoeng Kasaroeng: 


Pemain-pemainya adalah orang-orang pribumi, pembuatnya adalah dua orang Belanda: G. Krugers & L. Heuveldorf. Ketika film ini dibuat penduduk di kota-kota besar seperti Batavia, Bandung, Surabaya dll sudah tidak asing lagi dengan pemutaran film yang dulu dikenal dengan sebutan “Gambar Idoep”.

Mereka sudah biasa melihat film-film cerita yang berasal dari Amerika, Cina dan Belanda. Penduduk Hindia Belanda khususnya warga Batavia untuk pertama kalinya bisamenyaksikan film di penghujung tahun 1900.


Awal Pertunjukan Film

Pada 1895 Lumiere bersaudara (August & Louis) untuk pertama kalinya memutar film di kota Paris tepatnya di grand Cafe dengan cara memungut bayaran dari penonton, seperti halnya sistem pada bioskop saat ini. Sebelumnya mereka telah menemukan alat perekam gambar bergerak (kamera) dan berhasil memperoyeksikannnya kembali, sehingga bisa disaksikan orang banyak. 

Film-film yang ditampilkan adalah rekaman kehidupan sehari-hari warga kota Paris seperti buruh-buruh yang keluar dari pabrik dan seorang ibu yang sedang memberi makan bayinya. Yang paling membuat kegaduhan adalah rekaman gambar kereta yang berjalan ke arah layar. Ketika kereta semakin “mendekati” layar, penonton pun dibuat panik, mereka merasa kalau kereta tersebut akan menabraknya.

Film akhirnya semakin berkembang khusunya di Eropa termasuk Belanda. Kemudian film mulai di eksport ke koloni-koloni bangsa Eropa. Tentunya Belanda mengirimnya ke Hindia Belanda.



 Gambar Idoep tiba di Betawi

Tanggal 5 Desember 1900 warga Betawi utuk pertama kalinya dapat melihat “gambar-gambar idoep” atau Pertunjukan Film. Pertunjukan ini berlangsung di Tanah Abang, Kebonjae. 

Film pertama yang ditampilkan adalah sebuah dokumenter yang terjadi di Eropa & Afrika Selatan, juga diperlihatkan gambar Sri Baginda Maha Ratu Belanda bersama Yang Mulia Hertog Hendrig memasuki kota Den Haag.

Batavia: 


Bioskop yang terkenal saat itu antara lain adalah dua bioskop Rialto di Tanah Abang (kini bioskop Surya) dan Senen (kini menjadi gedung Wayang Orang Baratha) serta Orion di Glodok. Saat itu bioskop dibagi-bagi berdasarkan ras, bioskop untuk orang-orang eropa hanya memutar film dari kalangan mereka sementara bioskop untuk pribumi & tionghoa selain memutar film import juga memutar film produksi lokal. 

Kelas pribumi mendapat sebutan kelas kambing, konon hal ini disebabkan karena mereka sangat berisik seperti kambing.



Film Cerita Lokal Pertama

Film cerita lokal pertama berjudul “Loetoeng Kasaroeng” (1926) diambil dari cerita legenda yang berasal dari Jawa Barat. Pembuatannya dilakukan di Bandung, oleh Perusahan Film: Java Film Company yang dipimpin oleh G.Krugers dari Bandung dan L. Heuveldorf dari Batavia. 

Heuveldorf adalah seorang Belanda totok yang disebutkan sudah berpengalaman di bidang penyutradaraan di Amerika. Krugers adalah seorang Indo-Belanda asal Bandung, ia adalah adik menantu dari Busse seorang raja bioskop di Bandung. 

Penyutradaraan Film ini dilakukan oleh Heuveldorf, sementara pemainnya adalah anak2 dari bupati Bandung Wiranata Kusuma II. Hasilnya tergolong sukses, diputar selama satu minggu di Bandung, antara 31 Desember 1926-6 Januari 1927. 

Loetong Kasaroeng: 


Kemudian Java Film Co. membuat film kedua: “Euis Atjih”, perekamannya kembali dilakukan di Bandung. Tidak seperti “Loetoeng kasaroeng” yang merupakan cerita legenda, “Euis Atjih” adalah kisah drama modern. Hasilnya juga tergolang sukses.

Setelah orang Belanda memproduksi film lokal, berikutnya datang Wong bersaudara, yang hijrah dari industri film Shanghai. Awalnya hanya Nelson Wong yang datang, ia menyutradarai “Lily van Java” (1928) pada perusahaan South Sea Film Co. Kemudian kedua adiknya Joshua & Otniel Wong menyusul dan mendirikan perusahaan Halimoen Film.



Film Bicara

Pada akhir tahun 1929 diputar di sini film-film bersuara yaitu “Fox Follies” dan “Rainbouw Man” yang merupakan film bicara pertama yang disajikan di Indonesia. Perkembangan pemutaran film bicara agak lambat. Sampai tengah tahun 1930, baru sebagian kecil saja bioskop yang sanggup memasang proyektor film bicara.

Masuknya film bicara sebetulnya menguntungkan kedudukan film buatan dalam negeri. Karena penonton kalangan bawah semakin kurang faham menyaksikan film asing. Sebab informasi yang semula hanya disampaikan dalam bentuk aksi, kini banyak diganti dengan dialog, yang bahasanya tidak dipahami mereka. Sejak 1931 pembuat film lokal mulai membuat film bicara. Percobaan pertama yang antara lain dilakukan oleh The Teng Chun dalam film perdananya: “Bunga Roos dari Tjikembang” (1931) hasilnya amat buruk. 

Film bicara pertama yang dibuat Halimoen Film adalah Indonesie Malaise (1931). Sampai 1934 usaha pembuatan film bicara oleh perusahaan film lokal belum mendapatkan sambutan yang sangat antusias dari penontonnya sendiri.



Film cerita lokal pertama yang “Meledak”

Nama Albert Balink tercatat sebagai orang pertama yang memproduksi film lokal yang sangat laris, judulnya “Terang Boelan”. Albert Balink adalah seorang wartawan Belanda yang tidak pernah terjun ke dunia film dan hanya mempelajari film lewat bacaan-bacaan.

Pada tahun 1934 Balink mengajak Wong Bersaudara untuk membuat film “Pareh”. Untuk mendampinginya didatangkan dari negeri Belanda tokoh film Dokumenter Manus Franken. Mungkin karena Franken berlatar belakang dokumenter maka banyak adegan dari film “Pareh” yang menampilkan keindahan alam Hindia Belanda. 

Film seperti ini rupanya tidak mempunyai daya tarik buat penonton film lokal karena sehari-harinya mereka sudah sering melihat gambar-gambar tersebut. Kemudian Balink membuat perusahaan film “ANIF” (Gedung perusahaan film ANIF kini menjadi gedung PFN, terletak di kawasan Jatinegara) dengan dibantu oleh Wong bersaudara dan seorang wartawan pribumi yang bernama Saeroen, mereka membuat film “Terang Boelan” (1934). Hasilnya: inilah Film cerita lokal pertama yang mendapat sambutan yang luas dari kalangan penonton kelas bawah.

Terang Boelan: 


Film tersebut dibintangi oleh Miss. Roekiah & R.d Mochtar dimana berkat film “Terang Boelan” ini nama mereka jadi ikut melambung. Ketika namanya naik Miss. Roekiah sudah berkeluarga, ia bersuamikan Kartolo (pemain film juga) dan anak mereka kelak menjadi pemain film terkenal yaitu Rachmat Kartolo. Cerita film “TB” sendiri sebenarnya sangat mirip dengan film buatan Amerika yang berlatar kepulauan Hawai. 

Miss. Roekiah & R.d Mochtar: 


Pada film “Terang Boelan” kostum penduduk pulau SAWOBA (pulau fiktif , SWOBA adalah singkatan dari: SAeroen, WOng & BAlink) mirip dengan kostum penduduk kepulauan Hawai yang bisa diliat pada film-film Amerika, jadi bisa dipastikan bahwa film “TB” adalah hasil adaptasi. Kesuksesan TB di pasar menyebabkan pembuat film lain jadi ikut tergiur, maka film-film selanjutnya banyak yang menggunakan resep “TB”.



Film di bawah Pendudukan Jepang & Masa Revolusi

Pada 8 Maret 1942 Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang. Dalam bidang film yang pertama-tama dilakukan Jepang adalah menutup semua perusahaan film yang ada, termasuk 2 perusahaan film milik orang Cina yang produktif. JIF dan TAN’s FILM. Peralatan studio-studio tersebut disita untuk dimanfaatkan pada pembikinan film berita & penerangan. 

Dengan di tutupnya studio film tersebut maka para pengusahanya yang keturunan Cina beralih ke bisnis lain. Para pemainnya pun yang sebelumnya bergelut di panggung sandiwara kembali ke bidang tersebut. Pemerintah Jepang memang amat menggalakan media panggung sandiwara sebagai alat propaganda. Pada masa ini film cerita diproduksi dibawah pengawasan ketat pemerintah Jepang semua film harus sejalan dengan keinginan pihak Jepang.

Setelah Jepang menyerah terhadap sekutu maka di Indonesia terjadi kekosongan pemerintahan, proklamasi kemerdekaan pun dikumandangkan, namun pihak Belanda tidak mengakuinya & terjadilah perang sampai 1949. Pada masa revolusi kemerdekaan ini seorang pemuda yang bernama Usmar Ismail (kelak akan menjadi tokoh penting Perfilman Nasional) ikut dalam peperangan ia kemudian ditawan pihak Belanda. Setelah diketahui latar belakangya oleh pihak Belanda maka ia dipekerjakan pada perusahaan film Belanda sebagai asisten sutradara. Pada perusahaan film tersebut ia sempat menyutradarai film “tjitra”.



Hubungan Perfilman Lokal & Pergerakan Nasional pada zaman kolonial

Film lokal, terutama pada masa Hindia Belanda dan awal berdirinya Republik ini,ditujukan untuk masyarakat kelas bawah, sementara kaum pergerakan Nasional adalah orang-orang terpelajar yang berasal dari kalangan atas. Sepertinya mereka hidup di dalam dunia yang berbeda. 

Dimata kaum terpelajar film lokal dinilai tidak bermutu, baik dari segi teknis pembuatan maupun cerita. Namun bukan berarti tidak ada persentuhan sama sekali antara dua dunia ini. Beberapa orang film juga ada yang sepaham dengan pikiran2 kaum pergerakan nasional ini. Seperti Saeroen (“sutradara” film “Terang Boelan”) yang dulunya adalah seorang wartawan pernah menulis di koran “Pemandangan” dengan nama samaran Kampret. 

Dia menuliskan suatu kali ia memimpikan berdirinya negara “Republik Indonesia Serikat” dengan Perdana Menteri: M.H Thamrin, Menteri Pekerjaan Umum: Abikusno Tjokrosujoso, Menteri Pengajaran: Ki Hajar Dewantoro, Menteri Penerangan: Parada Haraha. Akibatnya koran “Pemandangan” dibreidel Pemerintah Belanda.

Kemudian ada seorang terpelajar yang bernama A.K Gani yang bermain dalam film “Asmara Moerni”, namun akibat dari perbuatan A.K Gani ini, ia dikecam oleh kalangan terpelajar/ pergerakan nasional lainnya. Setelah penampilannya di film tersebut A.K Gani tidak pernah muncul lagi di dunia perfilman.



 “Lahirnya” Film Nasional

Usmar Ismail yang sempat bekerja untuk perusahaan film Belanda akhirnya keluar dari perusahaan tersebut karena ketidak-cocokannya dengan sistem yang diterapkan. Ia pun mendirikan perusahaan film sendiri yang bernama Perfini (Perusahaan Film Indonesia). 

Produksi pertama film ini adalah “Darah & Do’a” atau “The Long March of Siliwangi” yang perekamannya dimulai pada 30 Maret 1950. 

 Usmar Ismail: 


Film ini mengisahkan tentang perjalanan jauh serombongan tentara bersama para pengungsi, di dalamnya terjadi saling tertarik hati antar komando tentara dengan salah satu pengungsi wanita Indo-Belanda, wanita dari kalangan musuh yang sedang diperangi, ceritanya digarap oleh Sitor Situmorang. 

Oleh Usmar Ismail dijelmakan dengan menggunakan pemain baru sama sekali, tidak menggunakan pemain profesional, rupanya ia anti “Star System”. 12 tahun sesudah produksi film “Darah & Do’a” tepatnya pada 11 oktober 1962 konferensi kerja Dewan Film Nasional dengan organisasi perfilman menetapkan hari shooting pertama film tersebut yaitu 30 Maret 1950 sebagai Hari Film Indonesia.

Ketetapan tersebut sempat mendapat perlawanan dari golongan kiri yang sangat agresif dalam menghadapi pihak yang dianggap sebagai lawan-lawannya. Pada 1964 golongan kiri membentuk PAPFIAS (penulis menemukan dua versi arti dari PAPFIAS: yang pertama Panitia Aksi Pemboikotan Film Imperialis Amerika Serikat, yang kedua Panitia Aksi Pengganyangan Film Imperialis Amerika Serikat.) Golongan kiri melakukan serangan-serangan kepada film Usmar Ismail yang dianggap tidak nasionalis atau kontra-revolusioner. 

PKI dan golongan kiri pun tidak mengakui tanggal 30 Maret 1950 sebagai Hari Film Nasional, tapi menuntut 30 April 1964 yang dijadikan sebagai Hari Film Nasional, saat berdirinya PAPFIAS. Pada 1966 terjadi peristiwa Gestapu, golongan komunis yang dianggap sebagai biang keladi peristiwa ini dihabisi. Artinya wacana penggantian tanggal hari film nasional ikut lenyap dan tanggal 30 Maret 1950 tetap diakui sebagai hari lahirnya Flm Nasional sampai saat ini.

Surga di Alam Bawah Laut Pantai Bonetapalang, Sulsel

sumber: http://detik.travel/readfoto/2012/01/24/225657/1823955/1026/9/surga-di-alam-bawah-laut-pantai-bonetapalang-sulsel



 
Pantai berpasir putih yang terletak di pesisir timur Selayar, Sulawesi Selatan, ini dapat ditempuh kurang lebih 2 jam perjalanan dari Kota Benteng Selayar. Di pantai ini, dibangun sebuah resort yang dikelola warga negara asing yang menyediakan jasa penyelaman. Kebanyakan yang menikmati keindahan pantai ini adalah turis asing yang ramai mereka kunjungi pada bulan Oktober-April ketika musim barat tiba. 

Aktifitas yang dapat dilakukan adalah berenang, snorkling dan diving. Namun kebanyakan yang datang berkunjung ke pantai tersebut adalah mereka yang hobi diving karena sepanjang pantai tersebut mempunyai pemandangan bawah laut yang sangat menakjubkan. Ketika Anda datang berkunjung ke pantai tersebut, kesan alami dan jauh dari hirup pikuk manusia akan Anda rasakan. Tidak ada akses darat langsung untuk menuju pantai tersebut sehingga Anda harus naik kapal dari Dermaga Patumbukang atau Apatanah selama kurang lebih 15 menit.


 Salah satu bangunan resort: 



Dermaga resort: 



 air laut yang begitu teduh: 



kan-ikan yang hidup di terumbu karang: 



drop off: 


 

gerombalan ikan trevaly dan penyelam: 

8 Pendekar Samurai Terhebat Sepanjang Sejarah

sumber: http://sourceflame.blo%2Aspot.com/

Samurai adalah istilah untuk perwira militer kelas elit sebelum zaman industrialisasi di Jepang. Kata "samurai" berasal dari kata kerja "samorau" asal bahasa Jepang kuno, berubah menjadi "saburau" yang berarti "melayani", dan akhirnya menjadi "samurai" yang bekerja sebagai pelayan bagi sang majikan.

Istilah yang lebih tepat adalah bushi (f?) (harafiah: "orang bersenjata") yang digunakan semasa zaman Edo. Bagaimanapun, istilah samurai digunakan untuk prajurit elit dari kalangan bangsawan, dan bukan untuk ashigaru (tentara berjalan kaki), misalnya. Samurai yang tidak terikat dengan klan atau bekerja untuk majikan (daimyo) disebut ronin (harafiah: "orang ombak"). Samurai yang bertugas di wilayah Han disebut hanshi.

Samurai harus sopan dan terpelajar, dan semasa Keshogunan Tokugawa berangsur-angsur kehilangan fungsi ketentaraan mereka. Pada akhir era Tokugawa, samurai secara umum adalah kaki tangan bagi daimyo, dengan pedang mereka hanya untuk tujuan adat istiadat. Dengan reformasi Meiji pada akhir abad ke-19, samurai dihapuskan sebagai kelas berbeda dan digantikan dengan tentara nasional yang menyerupai tentara negara Barat. Bagaimanapun juga, sifat samurai yang ketat yang dikenal sebagai bushido masih tetap ada dalam masyarakat Jepang masa kini, sebagaimana aspek cara hidup mereka yang lain.


1. Miyamoto Musashi

Pendekar samurai di zaman Edo. Menjadi pengembara selama bertahun tahun untuk menjadi pendekar samurai terhebat di Jepang, akhirnya ia menciptakan Nitouryu (teknik bertarung dengan dua pedang). Dia tidak hanya menulis tentang teknik pedang tetapi juga pernah menulis tentang semangat pendekar dalam buku nya yang berjudul Gorinsho. Seorang pendekar hebat yang tidak pernah terkalahkan dalam 60 kali pertarungannya. Mempunyai rival bernama Sasaki Kojiro yang berhasil dibunuhnya dalam duel Ganryujima (duel dari pulau Ganryu).
Kisah perjalanan hidupnya pernah dinovelkan, yang kemudian dibuat ulang dalam bentuk manga berjudul Vagabond oleh Takehiko Inoue (masih ingatkan, pengarang manga Slam Dunk ???)



2. Sasaki Kojiro


Seorang Pendekar samurai dari zaman Edo juga, merupakan rival berat Miyamoto Musashi.
Ia terus melatih teknik menebas jurus burung Swallow terbang miliknya, dan memakai pedang samurai bernama Tsubamegaeshi yang panjang seperti tiang jemuran pakaian, sehingga harus dia pikul ketika membawanya ( hmmm, kayaknya sering ditiru di dalam game atau anime nih).
Dia melayani tuannya yang bernama Hosokawa Tadaoki. Tewas dalam duel Ganryujima melawan Musashi.


3. Hijikata Toshizo

Seorang pendekar samurai dari Tennenrishinryu. Wakil ketua pasukan Shinsengumi di akhir zaman Edo. Dia adalah teman baik dari Kondo Isami sejak dari kecil. Persahabatan mereka tidak berubah sepanjang hidup mereka.
Di dalam berbagai pertempuran setelah kematian Kondo, ia tidak pernah menyerah. Ketika kalah dalam pertempuran penentuan di Hokkaido, ia melompat keluar sebelum musuh menangkapnya dan berpura pura mati. Dia berumur sampai tiga puluh empat tahun.
Karena dia adalah pria yang tampan, banyak wanita jatuh cinta kepada nya, bahkan dia juga dikabarkan berhubungan dengan sesama jenis. (bersama Okita Souji dijadikan sebagai tokoh tokoh penting dalam manga dan anime Samurai X)

NOTE: sebenarnya masih banyak anggota Shinsengumi yang lain, semua tokoh nyata dan sering keluar dalam manga dan anime. Tetapi dalam thread ini hanya ada 3 nama yang masuk ke dalam daftar.


4. Souji Okita

Juga seorang pendekar samurai dari Tennenrishinryu. Kapten unit ke satu dari kelompokShinsengumi. Meskipun Shouji Okita adalah seorang pendekar berbakat, tetapi dia meninggal karena penyakit TBC pada usia dua puluhan. 


5. Kondo Isami

Pendekar samurai yang ikut berhasil menyukseskan kelompok Tennenrishinryu (Tennenrishin metode pedang). Kepala pasukan Shinsengumi pada akhir periode Edo. Dia memimpin banyak anggota yang tangguh dengan semangat dan kesetiaan kelompok yang tinggi.
Kondo Isami menolak penjatuhan Keshogunan Edo sampai saat terakhir, maka ketika dia kalah dia dihukum penggal.



6. Hattori Hanzo


Juga seorang ninja paling terkenal dari Jepang, pemimpin ninja Iga. Dia melakukan kegiatan spionase dan tipu muslihat untuk keluarga Tokugawa sehingga mengantarkan Tokugawa sukses menjadi Shogun (penguasa jepang).
Hattori Hanzo meninggal tahun 1596 pada usia 55 dengan kematian yang alami. Namun, ada versi cerita bahwa seorang ninja yang bernama Fuma Kotaro telah membunuh Hanzo dalam pertempuran.

NOTE: jika juragan bertanya, mengapa ninja bisa masuk ke dalam daftar, tolong dibaca lagi arti samurai.


7. Yagyu Jubei
Pendekar di zaman Edo. Ia adalah pelayan Tokugawa Iemitsu. Dia menguasai Yagyushinkageryu (teknik pedang Yagyushinkage).



8. Sarutobi Sasuke


Salah satu ninja dari klanKoga. Karena ayah angkatnya adalah seorang bawahan tua keluarga Sanada, ia juga melayani Sanada Yukimura. Mempunyai rival bernama Kirigakure Saizo seorang ninja dari klan Iga. Menurut cerita ia meninggal dalam peristiwa Osaka Natsu No Jin (pertempuran Osaka di musim panas). Sasuke tewas ketika ia terdeteksi oleh penjaga istana. Dia berhasil melarikan diri. Namun sayang, dia masuk ke dalam perangkap beruang yang membuatnya terpaksa untuk mengamputasi kakinya sendiri. Dia kemudian bunuh diri di depan para penjaga istana dan mereka pun melemparkan tubuhnya ke dalam parit.
Keberadaan sesungguhnya tentang dirinya tidak jelas. Terkenal sebagai salah satu Sanada Juyushi (sepuluh pejuang pemberani dalam keluarga Sanada).

9 Kebohongan toko kamera

sumber: kaskus.us

Fotografi adalah salah satu bidang seni yang paling banyak dipenuhi mitos dan “fakta” yang tidak pernah terbukti kebenarannya. Biasanya Anda mendengar mitos ini saat berada di toko kamera, meskipun hal ini tidak selalu salah penjual di toko. Seringkali mitos ini berawal dari produsen kamera untuk mendukung promosi tipe kamera baru yang akan dipasarkan, dan berangsur-angsur beberapa mitos berubah menjadi kebohongan.

Kebohongan ini bukan berarti penipuan. Kebanyakan memang bermula dari fakta, tetapi kemudian dibesar-besarkan atau ditutup-tutupi sebagian sehingga memberi dampak yang lebih kuat. Dalam artikel ini Anda dapat membaca 9 hal yang paling sering terdengar saat kita berkunjung ke toko kamera, dan alasan mengapa Anda perlu lebih skeptis mengenainya.


1. Megapixel = Kualitas

Ya, mari memulai dengan kebohongan yang paling populer, yaitu bahwa megapixel lebih tinggi, lebih baik. Megapixel adalah satuan resolusi sensor, dan memang nilai ini merupakan hal pertama yang disebut pada setiap spesifikasi kamera. Pada suatu masa, memang produsen saling mengadu nilai megapixel tertinggi. Namun, jika ada yang mengatakan, “Kamera ini lebih baik karena memiliki 14 megapixel, kamera itu hanya 12 megapixel” maka Anda perlu waspada.

Sebenarnya tidak salah jika dibilang megapixel memengaruhi kualitas, tetapi harus dalam skala besar. Megapixel mencakup luas sensor. Karena itu, untuk mendapatkan detail yang 2x lebih baik secara teori Anda membutuhkan nilai megapixel yang 4x lebih besar. Misal sebelumnya 10 megapixel, Anda membutuhkan 40 megapixel. Ini berlaku untuk kamera dengan tipe yang sekelas.

Jadi, apa memang Anda membutuhkan extra 2 megapixel pada foto Anda? Kemungkinan besar jawabannya “Tidak”. Kamera saku terkini rata-rata memiliki 12 megapixel, sementara DSLR memiliki 15 megapixel. Kedua nilai ini sudah sangat tinggi dan extra 2 megapixel tidak akan memberikan perbedaan yang signifikan.


2. ISO 5000! ISO 10000!

Setelah melewati fasa “Perang Megapixel”, produsen kamera kini memasuki fasa “Perang ISO”. Ya, ISO, yang merupakan satuan sensitivitas kamera, didorong sampai batas-batas tidak masuk akal. Salvo pertama dimulai oleh Nikon dengan D3S yang dapat memotret sampai ISO 102.400, sekitar 32x lipat lebih tinggi dari kamera normal. Semakin ke sini, semakin banyak kamera saku yang menjanjikan pemotretan sampai ISO 3200 atau ISO 6400.

Kami tidak mengatakan bahwa ISO tinggi itu buruk. Pada saat gempa di Padang 2009 lalu, semua listrik mati sehingga banyak jurnalis yang merasakan manfaat ISO tinggi saat dokumentasi seperti pada foto ini. Tetapi, yang mereka gunakan adalah kamera puluhan juta rupiah. Pada kamera saku dengan harga 3 juta rupiah, kemungkinan besar kamera hanya dapat memotret secara efektif sampai ISO800. Memang Anda dapat mengubah ke angka yang lebih tinggi, tetapi bukan berarti kamera akan memberikan hasil bagus.


3. Anda butuh lensa telephoto


Setelah membeli DSLR Anda, seorang petugas toko yang baik akan menawarkan tambahan lensa telephoto. “Baik” dalam arti baik dalam menjual, bukan berarti baik ke pelanggan. Jika Anda termakan bujukan ini, kemungkinan besar Anda akan menukar lensa tersebut dalam beberapa bulan dengan lensa yang lebih mahal lagi.

Lensa telephoto memungkinkan Anda memotret objek-objek jauh dengan detail. Namun, jika Anda salah memilih lensa, efektivitas lensa tele menjadi terbatas. Sebuah survei mengatakan bahwa 90% penggunaan kamera dilakukan dalam ruangan atau saat malam hari, yang berarti kondisi pencahayaan tidak ideal. Jika anda memilih lensa telephoto yang terjangkau, kisaran 2-3 juta rupiah, maka lensa itu biasanya tidak dirancang untuk penggunaan dengan cahaya kurang. Dalam kondisi pencahayaan tidak ideal, lensa tele terjangkau biasanya memberi respon lambat atau gambar yang blur. Jika ingin telephoto yang yang baik, bersiaplah mengeluarkan uang 2-4 kali lipat nilai tersebut. Dengan dana sekian besar, Anda bisa mendapatkan lensa tele dengan aperture besar dan Anti Shake (peredam getar). Jadi, sudah cukup dong? Tidak juga, Anda perlu mengingat mitos berikutnya…


4. Dengan Anti Shake pasti tajam


Image Stabilizer, Vibration Reduction, SteadyShot. Itu adalah julukan sebagian produsen untuk sebuah sistem serupa: peredam getar. Peredam getar meredam goncangan tangan Anda sehingga memberikan hasil tajam. Feature ini dapat dibilang wajib dimiliki jika Anda ingin menggunakan lensa tele karena saat menggunakan lensa tersebut setiap gerakan kecil berpengaruh berkali lipat. Dan semua sistem peredam getar produsen kamera dapat bekerja dengan baik.

Namun, Anda perlu ingat bahwa sistem tersebut tidak meredam gerakan subjek sehingga sebaik-baiknya teknologi yang ada pada kamera, Anda masih perlu belajar bagaimana memaksimalkannya. Dengan membeli lensa atau bodi yang lebih mahal, bukan berarti foto Anda tidak akan gagal. 


5. “Ini lensa Jerman”


Carl-Zeiss, Leica, Schneider-Kreuznach. Ini adalah beberapa merek Jerman yang sukses merambah ke era digital. Banyak merek Jerman menikmati posisi sebagai merek premium saat fotografi film (analog), tetapi gagal bersaing dengan perkembangan teknologi Jepang di era digital. Lalu, yang sukses berarti produknya bagus dong? Satu hal yang perlu Anda ketahui, rahasia kesuksesan merek Jerman di era digital adalah dengan bekerja sama dengan … produsen Jepang.

Ya, beberapa produsen Jerman dapat tetap bersaing dengan memasarkan produk Jepang di bawah merek mereka. Leica D-Lux 4 adalah salah satu contoh. Produk tersebut sebenarnya sama persis dengan Panasonic LX3. Beberapa merek Jerman bahkan tidak lagi memasarkan, hanya menerima royalti dari produsen Asia sehingga produk mereka dapat dipasarkan dengan merek Jerman. Taktik pemasaran seperti ini terbukti efektif, tetapi Anda jangan menilai sebuah kamera lebih baik hanya karena ada merek Jerman tercantum padanya.


6. 15x zoom! 30x zoom!


Yang mereka katakan: “Lensa/kamera ini lebih baik karena zoomnya panjang”

Kenyataannya: Zoom yang panjang memperlambat kinerja lensa dan berpotensi menurunkan kualitas gambar

Akhir-akhir ini ada beberapa lensa ultrazoom yang cukup baik, tetapi lensa tersebut tidak murah. Generasi pertama lensa ultrazoom memiliki banyak masalah, termasuk ketiadaan sistem peredam getar pada beberapa merek. Silahkan saja memilih tipe lensa ini, tetapi yakinkan bahwa lensa tersebut adalah tipe terbaru.

Jika lensa ultrazoom terdapat pada kamera saku, masalahnya bertambah. Selain lambat, ukuran kamera juga membesar. Saat ini sudah ada kamera seukuran batang sabun dengan rentang zoom 14x seperti Canon SX210, karena itu tak perlu memilih kamera yang besar jika ingin zoom yang panjang. Kecuali jika Anda memang ingin kamera SLR-like, yang membawa kita ke poin berikutnya…


7. “Ini sudah mirip SLR”

Yang mereka katakan: “Kamera ini keren lho Pak/Bu, sudah seperti DSLR”

Kenyataannya: Kamera SLR-like masih 2-4 kali lebih lambat dibandingkan DSLR.

DSLR menjadi pilihan jurnalis bukan karena kualitas gambarnya karena untuk kualitas cetak koran, kamera saku masih bisa menyamai DSLR. Sebaliknya, jurnalis membutuhkan kecepatan DSLR. Padahal, kecepatan shot-to-shot, zooming, dan AF kamera SLR-like belum bisa menyamai DSLR sejati.

Selain itu, banyak orang menyukai efek ruang tajam tipis (shallow DOF) yang dapat diberikan DSLR tetapi sulit dilakukan dengan kamera SLR-like. Kamera SLR-like memang masih memiliki rentang zoom terpanjang, sampai 30x. Tetapi selain itu, tidak ada alasan kenapa Anda tak dapat memilih kamera yang lebih kecil atau memilih DSLR sejati.


8. Screen protector & Filter


Yang mereka katakan: “Tidak sekalian anti-gores dan filter lensa, Pak/Bu?”

Kenyataannya: Filter dan anti-gores berpotensi merusak kualitas gambar dan kualitas display

Layar LCD kamera kelas menengah ke atas sudah dilengkapi lapisan yang scratch resistant. Sampai batas tertentu, lapisan ini dapat menahan goresan. Yang lebih penting, kebanyakan layar LCD kamera telah dilengkapi lapisan anti refleksi sehingga layar lebih visible saat digunakan outdoor. Pemasangan anti gores dapat menganulir fungsi lapisan anti refleksi ini.

Filter UV/proteksi juga tak berbeda. Filter ini memang perlu untuk melindungi lensa, tetapi Anda tak boleh asal memilih dengan alasan, “toh hanya untuk proteksi”. Filter UV yang baik tidak memantul dan tidak mengurangi kualitas gambar. Harga filter bukan patokan terhadap kualitasnya, karena filter UV senilai Rp 600 ribu masih dapat memberikan hasil seperti ini. Sebaliknya, pastikan filter yang Anda pilih adalah tipe yang (paling tidak) Multi Coated.


9. Tas kamera untuk penyimpanan


Yang mereka katakan: “Beli tas yang besar saja, kan bisa sekalian untuk menyimpan kamera”

Kenyataannya: Menyimpan kamera dalam tas untuk waktu lama dapat menimbulkan jamur

Tas kamera biasanya kedap air, tetapi bukan berarti tas tersebut tidak lembab dan baik untuk penyimpanan. Busa dalam tas kamera dapat menyerap kelembaban dari udara, dan hal ini dapat mempercepat tumbuhnya jamur. Sebaiknya pilih tas yang nyaman dan cukup kecil untuk dibawa2.

Untuk penyimpanan, akan lebih baik menggunakan container kedap udara seperti Tupperware atau Lock n Lock yang sudah disisipkan silica gel. Solusi ini cukup efektif dan relatif terjangkau dibandingkan membeli dry cabinet. Namun, akan lebih baik lagi jika kamera Anda tidak disimpan, melainkan digunakan setiap hari.



Poin di mana toko kamera cenderung benar

Yang mereka katakan: “Sekalian ambil card readernya ya, Pak/Bu”

Kenyataan: Transfer foto menggunakan card reader dapat membuat kamera Anda lebih awet

Jika Anda tak memiliki card reader untuk media card yang kamera Anda gunakan, maka sebaiknya Anda miliki segera. Semua kamera memiliki kemampuan untuk mentransfer foto melalui kabel data yang disertakan dalam paket penjualan, tetapi metoda ini berpotensi mengurangi umur kamera. Transfer data melalui kamera berarti mengaktifkan sistem elektronik pada saat tak dibutuhkan, yang berarti pemakaian chip-chip elektronik bertambah. Transfer via kamera juga lebih lambat, sehingga sebaiknya turuti saran penjaga toko dan gunakan card reader.

10 Film Horror Nasional Terseram (2000 - 2012)

sumber: kaskus.us

Horror adalah salah satu genre film yang digandrungi banyak orang khususnya di Indonesia.Tapi anehnya sekarang ini jarang sekali film horror nasional yang benar – benar membawa kita dalam ketakutan yang sesungguhnya. Film horror sekarang tidak seperti film horror pada era 80an yang mampu membuat bulu kuduk berdiri padahal Cuma mendengar efek suara lolongan anjing, gambar kuburan, atau melihat mata pemeran hantu yang melotot padahal hanya menggunakan tata rias seadanya.
Ada beberapa film horror jaman dulu yang begitu melekat di ingatan ane karena mampu menjadi mimpi buruk ane waktu kecil. Apakah agan ingat atau tahu adegan Suzzana makan sate di film Sundel Bolong (1981)? Adegan Leak (Mahkluk yang hanya kepala dan jeroannya terbang) menghampiri “anu”-nya Ibu hamil dan menghisap bayinya di film Mystics In Bali (1981)? Adegan anak lelaki yang hendak shalat lalu jendelanya terbuka dan di depan jendela ada sesosok Kuntilanak di film Pengabdi Setan (1982)? . Kalau sekarang nonton lagi rasanya belum tentu kesan seram itu akan hadir pada diri ane, tapi at least ada film yang behasil menakut – nakuti ane. Lalu bagaimana dengan nasib film horror satu dekade terakhir?

Berikut ini film horor yang terseram 2000 - 2012:

10. Mati Suri (2009): 

Sutradara: Rizal Mantovani |Pemain: Nadine Chandrawinata, Yama Carlos, Tyas Mirasih & Keith Foo | Produksi: Maxima Pictures
Scary Moment:
Adegan mati lampu, saat sosok yang disebut Dajjal yang akan mengambil nyawa Abel(Nadine Chandrawinata). Sosok Dajjal adalah pocongkkk yang dibungkus kain batik tradisional. Ya unsur etnik dan tradisional yang dibawa dalam penampakan Dajjal ditambah efek lighting yang dramatis membuat film ini tertolong karena selebihnya tidak ada yang menakutkan dan tidak ada yang istimewa.


9. Kesurupan (2008): 

Sutradara: Rizal Mantovani |Pemain: Nia Ramadhani, Shareefa Daanish, & Andhika Pratama | Produksi: MD Pictures
Scary Moment:
Adegan Alin (Shareefa Daanish) pertama kali kesurupan di dalam tenda sangat memorable dan cukup membuat merinding apalagi saat mulai berbicara dalam bahasa Sunda dan mengusir orang – orang. Akting Daanish disini tidak kalah menakutkan dibanding aktingnya sebagai Dara, Daanish mampu memberikan gesture dan ekspresi yang pas saat memainkan adegan kesurupan plus gerakan – gerakan senam lantai seperti kayang.


8. Hantu (2007): 

Sutradara: Adrianto Sinaga | Pemain: Dhea Ananda, Oka Antara, Dwi Andhika, Andhika Gumilang, & Monique | Produksi: Grandiz Media Production
Scary Moment:
Ketika Rinjani (Dhea Ananda) kesurupan terlihat sangat real sekali ditambah sengan suasana hutan di sepanjang film yang mencekam juga penampakan mahkluk penunggu hutan yang cukup mengerikan.


7. Hantu Rumah Ampera (2009): 

Sutradara: Rudi Soedjarwo | Pemain: Ben Joshua, Nadilla Ernesta,Rahma Landy, & Meity Josefina | Produksi: Rapi Film
Scary Moment:
Ketika Ibunya Adit (Ben Joshua) sedang shalat di kamar di rumah barunya tiba – tiba di belakangnya ada sesosok wanita yang mengikuti gerakan shalat Ibu Adit sungguh memorable dan membuat bulu kuduk berdiri. Juga adegan saat Ibu Adit lupa membereskan sajadah dan mukenanya lalu saat Ibu tertidur ada sesosok wanita yang sedang shalat mengenakan mukena Ibu. Karena saya tahu ada cerita nyata tentang makhluk gaib yang suka shalat, maka adegan – adegan tersebut mampu menghadirkan sensasi buluk kuduk merinding


6. Tusuk Jelangkung (2003): 

Sutradara: Dimas Djayadiningrat | Pemain: Marcella Zalianty, Iqbal Rizantha, Dinna Olivia, Samuel Rizal, Thomas Nawilis, AA. Gde Wipra, & Ian’s Bachtiar | Produksi: Rexinema
Scary Moment:
Adegan Hostess Bunting yang menggaruk – garuk kuku dalam lemari cukup membuat paranoid tetapi puncaknya adalah adegan – adegan penampakan di Castila De Huis, sebuah hotel tua tak berpenghuni yang ada penunggu anak kecil yang bermain piano dan nenek – nenek Belanda yang membawa centir, speechless.


5. Kuntilanak (2006): 


Sutradara: Rizal Mantovani | Pemain: Julie Estelle, Evan Sanders, Ibnu Jamil & Ratu Felisha | Produksi: MVP Pictures
Scary Moment:
Sebenarnya penampakan Kuntilanaknya tidak ada seram – seramnya sama sekali tetapi yang membuat bulu kuduk berdiri adalah adegan Sam yang digoda oleh teman kostnya yang mesum, Sam yang marah tiba – tiba kesurupan dan menyanyikan tembang durmo. Ketika Sam menyanyikan bait, “Jin Setan Kang Tak Utusi” Sorot mata Sam (Julie Estelle) yang tajam dan dingin ditambah kekuatan magis dalam tembang Durmo-lah yang membuat ketakutan tersendiri bagi saya. Adegan ini terbukti memenangkan Best Scary Scene di MTV Indonesia Movie Awards (MIMA) 2007 dan menurut saya Kuntilanak ini juga sekuelnya merupakan Masterpiece dari Rizal Mantovani.


4. Legenda Sundel Bolong (2007): 

Sutradara: Hanung Bramantyo | Pemain: Jian Batari Anwar, Tio Pakusadewo, Uli Auliani, & Baim | Produksi: Rapi Film
Scary Moment:
Adegan Kepala Desa yang menelusuri jalan setapak lalu saat berbalik arah tiba – tiba ada yang memanggilnya lalu terdengar musik tradisional sunda. Ditengah pepohonan bambu dan gelapnya malam ada sesosok wanita yang menari ronggeng dengan selendangnya lalu memperlihatkan punggungnya yang bolong lengkap dengan rangkaian tulang belakangnya. Selanjutnya setiap penampakan si Sundel Bolong Imah ini cukup membuat merinding dengan ekspresi yang pas dari Jian Batari.


3. Titisan Naya dalam Takut (Faces of Fear) (2008): 

Sutradara: Riri Riza | Pemain: Dinna Olivia, Dewi Irawan, & Junior Liem | Produksi: Miles Films & Komodo Films
Scary Moment:
Film ini sangat luar biasa menghadirkan feel dan ambience seramnya. Saya sendiri terlahir di keluarga Jawa yang memiliki keris yang harus dimandikan dengan ritual tertentu jadinya Titisan Naya (Dinna Olivia) sangat mampu membuat bulu kuduk berdiri. Adegan mati lampu dan Naya mencari ibunya ditambah dengan penampakan sesepuh – sesepuh Naya yang memakain pakaian adat Jawa sangat luar biasa seram. Akting Dinna Olivia juga sangat meyakinkan sungguh saya begitu ingin film ini dibuat versi panjangnya.


2. Jelangkung (2001): 

Sutradara: Rizal Mantovani & Jose Purnomo | Pemain: Wingky Wiryawan, Harry Pantja, Melanie Ariyanto, Rony Dozer, & Ian’s Bachtiar | Produksi: Rexinema
Scary Moment:
Film ini sangat hebat daya pikatnya, meskipun hanya dibuat dengan peralatan teknis seadanya dan tidak terlalu wah seperti sekuelnya Tusuk Jelangkung. Jelangkung menghadirkan atmosfer horror yang kental ditambah dengan icon baru perhantuan Indonesia, si Bocah Turah. Adegan paling menakutkan adalah saat Ferdi (Wingky Wiryawan Dkk memburu hantu di rumah sakit tua, penampakan Suster Ngesot di kaca dan saat asik ngesot sangat menakutkan. Adegan suster ngesot lainnya yang hadir di depan kamar Gita adalah klimaks ketakutan bagi saya. Jelangkung dengan plotnya anak remaja main – main ke hutan dan melakukan hal yang dilarang sangat menjadi trend di perfilman horror Indonesia.


1. Keramat (Sacred) (2009): 

Sutradara: Monty Tiwa | Pemain: Poppy Sovia, Migi Parahita, Sadha Triyudha, Miea Kusuma, Dimas Projosujadi, Diaz Ardiawan, & Brama Sutasara | Produksi: Starvision Plus
Scary Moment:
Buat saya Keramat adalah full packed horror, tidak hanya menakut – nakuti tetapi ada nilai – nilai baik yang tersurat dalam film ini. Keramat juga mengcapture dengan baik penokohan dan watak orang – orang yang terlibat di dalamnya yang sangat Indonesia sekali. Dengan penggunaan metode penambilan gamabr sudut pandang subjektif, Keramat berhasil membuat penonton ikut merasa takut. Adegan yang menakutkan dalam film ini tergolong banyak, Adegan kesurupan Migi, Gamelan yang bunyi sendiri, Penampakan pocongkkk, Gamelan dan wayang yang tiba – tiba ada ditengah hutan, dan yang pasti paling membuat merinding adalah Penampakan orang – orang yang membawa tandu berisi mayat.